PENGUJIAN HIPOTESIS
hipotesis adalah
pernyataan tentang populasi yang kemudian akan dibuktikan oleh data. Kalau
dalam bidang hukum kita sering mendengar ada istilah praduga tak bersalah, di
mana seseorang dalam pengaduan sebagai tersangka akan diasumsikan tak bersalah
sampai hakim membuktikan ia bersalah. Dalam statistika kita juga menggunakan
suatu penduga terhadap populasi dan kemudian kita perlu membuktikan
kebenarannya. Jadi hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang parameter
populasi yang perlu dibuktikan kebenannya.
5.2. Pengujian Hipotesis
Dalam pengujian hipotesis, sebelum mengadakan pengujian hipotesis kita harus
memahami dahulu asumsi yang diperlukan dalam pengujian hipotesis. Asumsi ini
penting sebab dalam pengujian hipotesis, perbedaan asumsi akan membedakan alat
uji yang digunakan.
Contoh dalam
hipotesis tentang mean adalah uji
Z yang dihitung dengan rumus:

Penggunaan
rumus uji Z untuk menguji hipotesis mean di atas membutuhkan asumsi
bahwa deviasi standar populasi diketahui serta sampel harus berjumlah besar,
sehingga jika asumsi di atas tidak dipenuhi kita harus menggunakan alat uji
yang lain berupa uji t.
Tahap-tahap dalam pengujian hipotesis
Dalam
pengujian hipotesis tahap–tahap yang harus dilakukan adalah:
Tahap
1. Menentukan hipotesis null dan alternatif.
Dalam menentukan hipotesis null
dan alternatif kita harus mengetahui tentang hipotesis yang akan diuji.
Hipotesis null adalah hipotesis yang akan diuji kebenarannya. Sebagai
contoh kita ingin menguji tentang rata-rata laba perusahaan di BEJ adalah sama
dengan 100 juta, maka hipotesis null-nya adalah Ho: μ=100
juta.
Tahap
2. Memilih tingkat signifikansi.
Dalam memilih tingkat
signifikansi kita harus memperhatikan hasil penelitian terdahulu terhadap
penelitian sejenis. Masing-masing bidang ilmu mempunyai standar yang berbeda
dalam menentukan tingkat signifikansi. Ilmu sosial biasanya menggunakan tingkat
signifikansi antara 90% (a 10%) sampai 95% (a 5%), sedangkan ilmu-ilmu eksakta biasanya menggunakan tingkat signifikansi antara 98% (a 2%) sampai 99% (a 1%).
Tahap
3. Mengidentifkasi uji statistik.
Setelah
menentukan tingkat signifikansi langkah selanjutnya adalah menentukan uji
statistik yang akan digunakan. Hal ini karena masing-masing uji statistik
memerlukan asumsi yang berbeda dalam
penerapannya.
Tahap 4. Membuat aturan keputusan
Aturan keputusan adalah sebuah
pernyataan tentang kondisi di mana hipotesis ditolak atau kondisi hipotesis
tidak ditolak. Area penolakan menjelaskan lokasi dari semua nilai yang sangat
besar atau sangat kecil sehingga probabilitas kita di bawah sebuah hipotesis null
yang benar agar jauh. Berikut adalah
gambaran daerah penolakan untuk uji signifikansi
Gambar 5.1.
Daerah Penolakan dan Penerimaan H0

Titik Kritis
Titik
kritis adalah titik yang membagi daerah di mana hipotesis null di terima
atau hipotesis null di tolak.
Tahap 5. Pengambilan Keputusan
Tahap terakhir adalah pengambilan
keputusan untuk menolak atau tidak menolak hipotesis null. Berdasarkan
Gambar 5.1 apabila Z hitung ditemukan
sebesar 1,98 maka hipotesis null ditolak pada level kepercayaan 95%. Ho
ditolak karena Z hitung berada pada daerah penolakan H0 yaitu
disebelah kanan nilai Z sebesar 1,65.
5.3. Uji satu arah atau uji 2 arah
Pada Gambar 5.1 tersebut terlihat
bahwa kita menggunakan uji satu arah, karena area penolakan hanya di sebelah
kanan arah dari kurva. Pengujian satu arah atau dua arah akan sangat ditentukan
oleh hipotesis yang akan kita uji. Pada contoh uji tentang mean yang
menyatakan bahwa Ho: µ
3,02, yang dibaca
bahwa rata-rata populasi adalah sama dengan atau kurang dari 3,02, sehingga
hipotesis alternatifnya adalah Ha: µ > 3,02. Uji ini adalah uji satu arah
sehingga apabila kita gambarkan dalam
bentuk grafik adalah seperti Gambar 5.2.
Gambar 5.2.
Grafik Pengujian Satu Arah

Apabila
kita ingin menguji suatu hipotesis yang menyatakan bahwa rata-rata keluarga
memiliki anak kurang dari 4 orang maka bentuk uji hipotesisnya adalah sebagai
berikut:
Ho: µ
4
Ho: µ < 4
Pada hipotesis di
atas dalam pengujiannya menggunakan uji satu arah di mana aturan pengambilan
keputusannya bisa kita gambarkan sebagai berikut:
Gambar 5.3.
Grafik Pengujian Satu Arah

Uji
satu arah digunakan jika dalam pernyataan hipotesis ada tanda lebih besar atau
lebih kecil (>/<).
Apabila
dalam pernyataan hipotesis tidak ada petunjuk lebih besar atau lebih kecil maka
uji dua arah digunakan. Sebagai contoh adalah apabila kita ingin menguji suatu
hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara rata-rata pendapatan daerah A dengan daerah B, maka
hipotesis yang kita gunakan rumus sebagai berikut:
Ho: µA =
µB
Ho: µA
µB
Untuk
menguji hipotesis di atas maka uji yang digunakan adalah uji dua arah, sehingga
kurva uji adalah seperti pada Gambar 5.4.
Gambar 5.4.
Grafik Pengujian Dua Arah

Dalam uji hipotesis tentang rata-rata populasi dengan
sampel besar, deviasi standar populasi harus diketahui.
Pada uji ini kita ingin mengetahui
tentang apakah rata-rata populasi semua dengan nilai tertentu. Sebagai contoh
adalah rata-rata return on equity perusahaan publik di Indonesia adalah 0,46 dengan
jumlah populasi adalah 700 dan deviasi standart adalah 0,05 maka nilai Z hitung
bisa dicari dengan rumus :
Z = 
Dimana:
μ
adalah rata-rata populasi;
n adalah jumlah sampel
Apabila diambil
sampel sebanyak 30 perusahaan ditemukan
bahwa
= 0,47 maka hipotesisnya
adalah:
Ho: µA =
0,46
Ho: µA
0,46.
Maka nilai Z =
= 
= 

= 1,095
Apabila dengan tingkat kepercayaan
95% maka nilai kritis Z dengan uji 2 arah,
setengah dari a 0,05 adalah
0,025, sehingga luas kurva adalah 0,475 dengan mencari pada nilai tabel
Z didapatkan nilai Z tabel +1,96 sehingga bentuk kurvanya
adalah:
Gambar 5.5.
Titik Kritis
Pengujian Dua Arah

Nilai Z
hitung tersebut akan terletak pada daerah penerimaan Ho. Dari sini kita bisa
menyimpulkan bahwa kita tidak membuktikan bahwa Ho benar tetapi kita telah
gagal untuk menyangkal Ho, yang berarti kesimpulannya rata-rata return on investment perusahaan di
Indonesia adalah 0,46.
Apabila kita ingin menguji satu arah
maka nilai Z hitung akan berubah menjadi 0,5 – 0,05 = 0,45 sehingga
titik kritisnya adalah 1,65. Dalam bentuk kurva nilai pengujian satu arah
adalah sebagai berikut:
Gambar 5.6
Titik Kritis
Pengujian Satu Arah

Dengan menggunakan uji satu arah bisa dilihat bahwa nilai Z hitung
tetap berada pada daerah penolakan H0 sehingga kita bisa
menyimpulkan bahwa rata-rata return on
investment perusahaan di Indonesia adalah 0,46.
5.4. Nilai P dalam Uji Hipotesis
Dalam aplikasi software
statistik biasanya akan tercantum nilai P yang merupakan nilai kekuatan
penolakan. Dengan nilai P kita bisa membandingkan dengan tingkat signifikansi
atau alpha di mana jika nilai P lebih kecil dari nilai tingkat
signifikansi atau alpha maka menolak Ho, namun jika nilai P lebih besar
dari tingkat signifikansi atau alpha maka menerima Ho.
Nilai P
adalah probabilitas sampel observasi mempunyai perbedaan yang besar dari nilai
observasi di mana hipotesis null benar. Nilai P yang sangat kecil
menunjukkan bahwa kecil kemungkinan Ho benar, sebaliknya jika P-value besar maka kecil kemungkinan bahwa Ho salah.
Untuk
mendapatkan nilai P kita mengurangi luas area ½ kurva dengan luas area z
dari z hitung. Pada contoh rata-rata pendapatan uji
hipotesis tentang return on investment
dengan dua arah diatas, diperoleh luas
area z hitung = 0,3621. Dengan 0,5 – 0,3621 = 0,1375. Dikali dua untuk uji dua arah = 0,275. Karena nilai
P sebesar 0,275 lebih besar dari pada 0,05 maka kita tidak menolak Ho.
Dalam
aplikasi software yang lain mungkin bukan nilai P sebagai indikator
penerimaan atau penolakan hipotesis,tetapi menggunakan nilai Signifikansi.
Contoh yang ada adalah pada aplikasi software SPSS, keputusan penerimaan atau
penolakan hipotesis bisa dengan melihat nilai Sig(Significant).
Jika nilai Sig lebih kecil dari alpha maka kita bisa menyimpulkan untuk
menolak H0, sebaliknya jika nilai Sig lebih besar dari alpha
maka kesimpulan yang dibuat adalah kita menerima H0. Penerimaan dan penolakan H0
terlihat seperti Gambar 5.7
Gambar 5.7
Daerah Penerimaan & Penolakan H0

Apabila
dalam uji hipotesis di atas
tidak diketahui, maka
kita menggunakan deviasi standar sampel sebagai penggantinya, sehingga z hitung
adalah
Z = 
di mana:
μ = adalah rata-rata populasi s = adalah deviasi standar sampel
5.5. Uji Hipotesis Dua Mean
Pada bagian ini kita akan membahas
mengenai uji hipotesis untuk perbandingan dua mean. Untuk menguji
perbedaan dua mean digunakan rumus uji sebagai berikut:
Z = 

di
mana:
n1
adalah jumlah sampel pertama;
n2
adalah jumlah sampel kedua.
Contoh
Kita
ingin membandingkan rata-rata kandungan lemak pada produk susu yang diharuskan minimum sebesar 5 gram
per sachet. Suatu survei untuk membandingkan kandungan lemak susu antara
dua perusahaan dengan memilih sampel sebanyak 100 sachet produk A dan
100 sachet produk B. Berdasarkan hasil survei ditemukan rata-rata
kandungan lemak produk A adalah 5,12 kg sedangkan produk B adalah 5,13 kg
dengan deviasi standar produk A adalah 0,05 dan produk B adalah 0,06. Ujilah
apakah kandungan lemak susu per sachet kedua produk tersebut sama atau
berbeda.
Jawab
Untuk
menjawab pertanyaan tersebut kita menggunakan uji Z tentang perbedaan mean
atau rata-rata. Langkah-langkah
pengujiannya adalah sebagai berikut:
1. Menyatakan hipotesis null dan hipotesis
alternatif. Hipotesis null dan alternatifnya dinyatakan sebagai berikut:
Ho: µA
= µB
Ho: µA
µB
2. Menentukan level signifikansi. Untuk level
signifikansi dipilih tingkat kepercayaan 95%.
3. Menentukan uji statistik yang digunakan. Untuk menguji
hipotesis tersebut kita menghitung nilai Z
Z =
=
=
=
= 1,28
4. Memformulasi Keputusan.
Dengan memilih level signifikansi 95% uji dua arah kita mendapatkan nilai Z tabel sebesar 1,96.
Dengan membandingkan nilai z hitung dengan z tabel di
mana z hitung lebih kecil dari pada Z tabel maka dapat kita simpulkan bahwa z hitung
terletak pada daerah penerimaan H0, sehingga bisa disimpulkan bahwa
rata-rata kandungan susu kedua produk adalah sama. Selengkapnya dapat kita
gambarkan dalam Gambar 5.8 sebagai berikut:
Gambar 5.8
Nilai P Dalam Pengujian Hipotesis

Kita juga bisa menghitung nilai P untuk mengambil keputusan. Pada contoh
tersebut terlihat bahwa luas area 1,28 adalah 0,3849. Jadi luas area di sebelah
kanan 1,2 adalah 0,5 – 0,3849 = 0,1003. Dengan uji dua arah maka nilai P adalah
2 x 0,1151 = 0,20026 Karena nilai P lebih besar dari 0,05 maka kita tidak
menolak Ho.
5.6. Uji Proporsi satu variabel.
Pada pembahasan sebelumnya kita
membahas mengenai pengujian terhadap data yang berbentuk interval atau rasio.
Pada bagian ini kita akan membahas tentang proporsi. Proporsi adalah suatu
pecahan, rasio atau persentase yang menunjukkan suatu bagian populasi atau
sampel yang mempunyai sifat luas. Sebagai
contoh adalah suatu survei tentang tingkat pendidikan konsumen dengan mengambil
sampel 70 orang, 30 orang dinyatakan berpendidikan SMU. Jadi sampel proporsi
yang berpendidikan SMU adalah 30/70 = 42,86 %. Jadi seumpama P merupakan
proporsi untuk sampel, proporsi sampel (P)adalah
:
P= 

Dalam
menguji proporsi sampel populasi ada beberapa asumsi yang perlu dipenuhi yaitu:
- Data sampel yang diperoleh dengan perhitungan
- Hasil dari percobaan diklasifikasikan dalam 2 kategori yang mutually exclusif yaitu sukses atau gagal;
- Probabilitas untuk sukses pada tiap perlakuan adalah sama;
- Tiap-tiap perlakuan adalah independen.
Selain asumsi di
atas, uji hipotesis tentang proporsi bisa dilakukan jika n. dan
(1-µ) kedua-duanya
paling sedikit berjumlah 5. Rumus untuk
uji hipotesis proporsi satu variabel adalah sebagai berikut:
dimana:
p : proporsi sampel;
p : proporsi populasi;
n : jumlah sampel;
sehingga rumus di atas menjadi 

Contoh
Suatu survei tentang merek kacang garing yang dibeli oleh konsumen
menyatakan bahwa proporsi kacang garing merek A dikonsumsi 60% konsumen yang
menjadi responden. Dengan menggunakan uji hipotesis proporsi, nilailah peluang
bahwa kacang merek A dipilih oleh para konsumen jika dari hasil penelitian
selanjutnya yang dilakukan terhadap 1000 orang, sebanyak 500 orang menyatakan
memilih merek A, ujilah apakah perbedaan hasil penelitian tersebut sesuai
dengan survei sebelumnya?
Jawab
Untuk
menguji hipotesis di atas kita menggunakan
uji proporsi dengan tahap-tahap sebagai berikut:
- Menentukan hipotesis null dan hipotesis alternatif.
Ho : p ³ 0,6
H1
: p < 0,6
- Menentukan tingkat kepercayaan. Untuk tingkat kepercayaan dipilih 95%.
- Menetukan uji statistiknya. Uji statistiknya adalah:
- Menentukan titik kritis penolakan atau penerimaan hipotesis. Dari level kepercayaan 95 % kita dapat melihat bahwa nilai Z adalah 0,5 – 0,05 = 0,45. Nilai Z kita cari pada tabel Z dengan uji satu arah didapat nilai Z adalah 1,65. Aturan keputusan dapat kita gambarkan sebagai berikut.
Gambar 5.11.
Grafik pengujian
hipotesis dengan taraf kepercayaan 95%

- Untuk menentukan apakah kita menolak H0 atau tidak menolak H0 kita menghitung nilai Z hitung

Dari
hasil penghitungan tersebut terlihat bahwa nilai z hitung sebesar
-1,29 terletak pada daerah penerimaan H0. Dengan demikian perbedaan
sebesar 2 % dari penjualan yang menyatakan bahwa pangsa pasar kadang merek A
adalah 60 % adalah hasil dari variasi fungsinya, dalam arti pangsa pasar kacang
garing merek A adalah 60%. Kita bisa juga menghitung nilai p dengan cara
mencari luas area nilai Z yang sebesar -1,29 yaitu sebesar 0,04015. Sehingga
nilai p adalah 0,05 – 0,4015 = 0,09. Karena nilai p lebih besar dari pada level
kepercayaan 95% (α = 5%) maka kita tidak menolak H0.
5.7. Uji hipotesis perbedaan proporsi dua populasi
Dalam dunia bisnis banyak kedudukan dengan dua variasi
suatu populasi misalnya adalah apakah ada perbedaan antara populasi perempuan
usia muda yang menyukai parfum merek A dengan perempuan usia setengah baya yang
menyukai parfum merek A. untuk menguji hal tersebut kita perlu menguji
perbedaan antara populasi tersebut. Rumus uji statistik untuk menguji proporsi
dua populasi adalah sebagai berikut:

di mana
P1 : proporsi populasi pembaca laki-laki
P2 : proporsi populasi pembaca perempuan
N1 : jumlah sampel laki-laki
N2 : jumlah sampel perempuan
P1 : rata-rata tertimbang dari dua proporsi sampel
yang dihitung dengan
di mana:
x1 : jumlah poporsi sampel jenis 1
x2 : jumlah poporsi sampel jenis 2
n1 :
jumlah sampel jenis 1
n2 :
jumlah sampel jenis 2
Contoh
Suatu survei tentang majalah mengungkapkan bahwa majalah
“Ekonomia” dibaca oleh pembaca 45% dari seluruh pembaca laki-laki, dan 46%
pembaca perempuan dari seluruh pembaca perempuan. Manajer pemasaran majalah
ingin membuktikan kebenaran survei tersebut dengan mengadakan penelitian
terhadap pembaca di suatu kota. Jumlah responden laki-laki dipilih 150 orang
dan yang membaca majalah sebanyak 69
orang mengaku membaca majalah “Ekonomia”, sedangkan dari 200 orang responden
perempuan yang membaca majalah “Ekonomia” adalah 95 orang. Dengan menggunakan
uji hipotesis proporsi ujilah apakah proporsi pembaca majalah tersebut sama?
Jawab:
Untuk
menjawab hal tersebut kita menggunakan tahap-tahap sebagai berikut:
- Tahap 1. Menyatakan hipotesis null dan alternatif
H0
: P1 = P2 : p1= p2
H1
: P1 ¹ P2 : p1 ¹ p2
- Memilih tingkat signifikansi. Level yang dipilih adalah 95%.
- Menghitung uji statistik. Karena sampel yang digunakan cukup besar maka uji statistik yang digunakan adalah uji Z di mana distribusi mendekati standar normal.

di mana
P1 : proporsi populasi pembaca laki-laki
P2 : proporsi populasi pembaca perempuan
n1 : jumlah sampel laki-laki
n2 : jumlah sampel perempuan
Pc : rata-rata tertimbang dari dua proporsi sampel
yang dihitung dengan
di mana:
x1 : jumlah sampel laki-laki yang membaca majalah
ekonomi
x2 : jumlah sampel perempuan yang membaca majalah
ekonomi
- Membuat aturan keputusan
Karena dari hipotesis tersebut tidak menyatakan suatu
petunjuk seperti lebih besar atau lebih kecil, maka kita menggunakan uji dua
arah. Titik kritis dengan level kepercayaan 95% adalah 1,96, sehingga jika
nilai Z hitung berada pada ±1,96 kita tidak menolak hipotesis null.
Gambar 5.12
Daerah Penerimaan & Penolakan H0

- Pengambilan keputusan
X1 : 69 p1 : 
= 0,46
N1 : 150
X2 : 95 P2 : 
N2 : 200 = 0,475
Pc= 
= 
= 0,47
Jadi



Z 
Berdasar hasil penghitungan nilai z hitung
terlihat bahwa nilai z hitung berada pada daerah penerimaan H0
sehingga kita dapat membuat keputusan untuk menerima hipotesis null.
5.8. Uji Hipotesis Sampel kecil
Pada Bab sebelumnya kita telah mempelajari tentang uji
hipotesis sampel bisa dengan menggunakan uji Z. Dalam menggunakan uji Z ada
syarat yang harus kita penuhi; yaitu deviasi standar populasi dikatakan atau
mempunyai sampel yang besar (730) dalam kondisi umum. Pengetahuan tentang
deviasi standar populasi adalah uji student’s t atau
distibusi t. dalam mengunakan uji t kita tetap menggunakan asumsi bahan
populasi konstruksi secara normal.
Karakteristik uji t
Uji t dibangun oleh William S. Goossett dari Irlandia yang
dipublikasikan pada tahun 1982. Distribusi ini berasal dari kekhawatirannya
terhadap penggunaan s sebagai penduga s akan menimbulkan
ketidakcocokan ketika dihitung dengan sampel yang sangat kecil. Bentuk
distribusi t lebih menyebar daripada distribusi Z sebagaimana pada Gambar 5.14
Gambar 5.14
Distribusi T dan Distribusi Z

Sebagaimana distribusi Z yang didasarkan ada asumsi bahwa
populasi terdistribusi secara normal, distribusi t juga didasarkan pada asumsi
bahwa populasi terdistribusi secara normal, dimana distribusi t mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
1.
Merupakan distribusi kontinyu dan berbentuk lonceng
simetris
2.
Tidak ada satu distribusi t tetapi merupakan keluarga
distribusi t, dan semua distribusi t mempunyai rata-rata null, akan
tetapi deviasi standar akan berbeda sesuai dengan ukuran sampel.
3.
Distribusi t lebih menyebar dan lebih mendatar daripada
distribusi normal standar. Semakin besar ukuran sampel, distribusi t akan
semakin mendekati distribusi normal.
Karena distribusi t lebih menyebar
daripada distribusi Z maka titik kritis distribusi t juga semakin besar.
Sebagai contoh perbandingan adalah distribusi Z dengan level signifikansi 95%
dan distribusi t pada jumlah sampel 8 dengan level signifikansi 95% yang digambarkan
pada Gambar 5.15 dan Gambar 5.16. sebagaimana pada Gambar 8.2 titik kritis
distribusi Z adalah 1,65 sedangkan distribusi t adalah 1,95.
Gambar
5.15
Titik Kritis Distribusi Z
Titik Kritis Distribusi t
Apabila kita lihat pada tabel distribusi Z dengan level signifikansi 95% bila
jumlah n tidak terbatas maka titik
kritis distribusi t melewati titik
kritis distribusi Z yaitu 1,65.
5.9.
Uji rata-rata populasi
Sebagaimana kita ingin menguji
hipotesis rata-rata populasi, tetapi apabila jumlah sampel yang terdiri dari 30
dan deviasi standar populasi tidak diketahui, dengan asumsi populasi mendekati
normal, kita menggunakan uji yang berbeda dari uji Z. Untuk menguji hipotesis
ini kita menggunakan uji t sebagai uji statistik.
Rumus uji rata-rata populasi adalah :

di mana:
µ0 adalah rata-rata populasi;
s adalah deviasi standar sampel;
n adalah jumlah sampel.
Contoh
Suatu perusahaan armada truk ingin membeli truk baru.
Mereka akan membeli truk tersebut jika konsumsi solar per liter bisa lebih dari
15 km per liter. Dengan menggunakan n = 15, ditemukan bahwa rata-rata jarak tempuh per liter adalah
16 km dengan deviasi standar 1,73 km. Dengan uji statistik ujilah apakah truk tersebut
mempunyai jarak tempuh per liter rata-rata lebih kecil sama dengan 15 atau
lebih.
Jawab
1.
Menyatakan hipotesis
H0 : m £ 15
H1 : m > 15
2.
Menggunakan uji statistik. Uji statistik yang digunakan
adalah uji t

3.
Menentukan
signifikansi. Tingkat
signifikansi yang digunakan adalah 95%
4.
Menentukan keputusan
Berdasar tingkat
signifikansi 95 % dengan n = 15 maka nilai t
berdasarkan tabel t adalah 1,76. Dengan demikian kita menolak hipotesis null,
karena nilai t hitung terletak pada
daerah tolak H0 sebagaimana Gambar 5.16.
Gambar 5.16
Titik Kritis Uji t

Kita juga bisa
menentukan keputusan dengan menggunakan nilai P pada hasil print out
komputer.
Dari tabel t dengan
n = 4 (n – 1) terlihat nilai 2,236. Pada tabel tersebut nilai 2,236 terletak
pada tingkat signifikansi 0,005 sampai 0,01. karena level signifikansi t hitung lebih kecil dari 0,05
maka kita menolak hipotesis null.
5.10. Uji hipotesis sampel berpasangan
Sebagai
contoh, dalam bidang akuntansi jika kita ingin menguji apakah ada perbedaan
yang signifikan antara laporan keuangan yang disusun dengan metode konvensional dan yang disusun dengan
metode berindeks harga. Untuk itu kita harus menguji distribusi perbedaan
antara kedua populasi tersebut. Kita menggunakan tanda µd yang
menunjukkan bahwa rata-rata populasi dari distribusi perbedaan. Uji yang kita
gunakan adalah uji t dengan rumus sebagai berikut:

dimana
Sd
adalah standar deviasi perbedaan
pasangan sampel yang dicari dengan
rumus:
Sd =
n
adalah jumlah pasangan sampel
Contoh
Suatu
penelitian tentang pengaruh penggunaan indeks harga dalam laporan keuangan
ingin menguji apakah ada perbedaan yang signifikan antara rasio return on
asset (ROA) laporan keuangan
konvensional dengan ROA laporan keuangan indeks harga. Data ROA dihitung dari
laporan keuangan. Berdasarkan analisis ROA laporan keuangan konvensional dan
analisis ROA laporan keuangan berindeks harga didapat data sebagai berikut :
Tabel 5.5
ROA Konvensional
& ROA Lap. Keu. Berindeks Harga
|
sampel
|
ROA konvesional
|
ROA laporan keuangan berideks harga
|
|
1
|
0,46
|
0,49
|
|
2
|
0,32
|
0,33
|
|
3
|
0,54
|
0,57
|
|
4
|
0,34
|
0,33
|
|
5
|
0,41
|
0,45
|
|
6
|
0,36
|
0,38
|
|
7
|
0,27
|
0,28
|
|
8
|
0,26
|
0,27
|
|
9
|
0,47
|
0,46
|
|
10
|
0,65
|
0,68
|
Dengan menggunakan
level signifikasi 95% ujilah apakah ada perbedaan rata-rata antara ROA
konvensional dengan ROA laporan keuangan berindeks harga.
Jawab
Untuk menguji kita gunakan uji t
dengan hipotesis sebagai berikut:
Ho: µd = 0
Ho: µd
0
Menghitung nilai t
tabel yang diketahui sebagai berikut:
Tabel 5.6.
Rata-rata ROA Laporan Keuangan
|
Sampel
|
ROA konvesional
|
ROA lap. keu
berideks harga
|
Perbedaan
|
Kuadrat Perbedaan
|
|
1
|
0,46
|
0,49
|
-0,03
|
0,0009
|
|
2
|
0,32
|
0,33
|
-0,01
|
0,0001
|
|
3
|
0,54
|
0,57
|
-0,03
|
0,0009
|
|
4
|
0,34
|
0,33
|
0,01
|
0,0001
|
|
5
|
0,41
|
0,45
|
-0,04
|
0,0016
|
|
6
|
0,36
|
0,38
|
-0,02
|
0,0004
|
|
7
|
0,27
|
0,28
|
-0,01
|
0,0001
|
|
8
|
0,26
|
0,27
|
-0,01
|
0,0001
|
|
9
|
0,47
|
0,46
|
0,01
|
0,0001
|
|
10
|
0,65
|
0,68
|
-0,03
|
0,0009
|
|
Jumlah
|
4,08
|
4,24
|
-0,16
|
0,0052
|
|
Rata-rata
|
0,408
|
0,424
|
-0,016
|
|
= -0,016
Sd =
= 

=
= 0,017127
t =
=
= 
=
= -2,82
Berdasarkan
hasil perhitungan tersebut terlihat bahwa nilai t hitung terletak
pada daerah penerimaan Ha dengan demikian
kita menolak Ho, yang berarti rata-rata ROA laporan keuangan
konvensional dan laporan keuangan berindeks harga adalah berbeda. Kita bisa
juga menggunakan nilai p untuk menguji hipotesis, dengan melihat pada tabel t
di df =9 kita bisa menemukan bahwa nilai t berada pada level signifikansi dibawah
0,05 sehingga kita menolak Ho.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar